Senin, 30 Januari 2017

Lebih Baik Mengajarkan Sanksi

Tanpa Disadari Anak Belajar Bohong dari Orangtua

ADA fakta unik dan menarik yang menjadi "jalan" salah dalam mendidik an
ak-anak. Tanpa disadari biasanya, orangtua selalu mengulang hal tersebut. Hasilnya, sang anak mereka tingkah orangtuanya dan menjadi model sebagai pembenaran.
Misalnya menjadikan anak sebagai "raja yang tak pernah salah". Jujur berkaca pada pengalaman. Sewaktu anak kita masih kecil dan belajar jalan tidak jarang tanpa sengaja mereka menabrak kursi atau meja. Lalu mereka menangis. Umumnya, yang dilakukan oleh orang tua supaya tangisan anak berhenti adalah dengan memukul kursi atau meja yang tanpa sengaja mereka tabrak. Sambil mengatakan, “Siapa yang nakal ya? Ini sudah Papa/Mama pukul kursi/mejanya…sudah cup….cup…diem ya..Akhirnya si anak pun terdiam.
Ketika proses pemukulan terhadap benda-benda yang mereka tabrak terjadi, sebenarnya kita telah mengajarkan kepada anak kita bahwa ia tidak pernah bersalah.
Yang salah orang atau benda lain. Pemikiran ini akan terus terbawa hingga ia dewasa. Akibatnya, setiap ia mengalami suatu peristiwa dan terjadi suatu kekeliruan, maka yang keliru atau salah adalah orang lain, dan dirinya selalu benar. Akibat lebih lanjut, yang pantas untuk diberi peringatan sanksi, atau hukuman adalah orang lain yang tidak melakukan suatu kekeliruan atau kesalahan.
Kita sebagai orang tua baru menyadari hal tersebut ketika si anak sudah mulai melawan pada kita. Perilaku melawan ini terbangun sejak kecil karena tanpa sadar kita telah mengajarkan untuk tidak pernah merasa bersalah.
Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan ketika si anak yang baru berjalan menabrak sesuatu sehingga membuatnya menangis? Yang sebaiknya kita lakukan adalah ajarilah ia untuk bertanggung jawab atas apa yang terjadi; katakanlah padanya (sambil mengusap bagian yang menurutnya terasa sakit): ” Sayang, kamu terbentur ya. Sakit ya? Lain kali hati-hati ya, jalannya pelan-pelan saja dulu supaya tidak membentur lagi.”

Dididik Bohong
Lalu ada juga orang tua yang "mendidik" anak untuk berbohong. Awalnya anak-anak kita adalah anak yang selalu mendengarkan kata-kata orang tuanya, Mengapa? Karena mereka percaya sepenuhnya pada orang tuanya.
Namun, ketika anak beranjak besar, ia sudah tidak menuruti perkataan atau permintaan kita? Apa yang terjadi? Apakah anak kita sudah tidak percaya lagi dengan perkataan atau ucapan-ucapan kita lagi?
Tanpa sadar kita sebagai orang tua setiap hari sering membohongi anak untuk menghindari keinginannya. Salah satu contoh pada saat kita terburu-buru pergi ke kantor di pagi hari, anak kita meminta ikut atau mengajak berkeliling perumahan. Apa yang kita lakukan? Apakah kita menjelaskannya dengan kalimat yang jujur?
Atau kita lebih memilih berbohong dengan mengalihkan perhatian si kecil ke tempat lain, setelah itu kita buru-buru pergi? Atau yang ekstrem kita mengatakan, “Papa/Mama hanya sebentar kok, hanya ke depan saja ya, sebentaaar saja ya, Sayang.” Tapi ternyata, kita pulang malam. Contoh lain yang sering kita lakukan ketika kita sedang menyuapi makan anak kita, “Kalo maemnya susah, nanti Papa?Mama tidak ajak jalan-jalan loh.” Padahal secara logika antara jalan-jalan dan cara/pola makan anak, tidak ada hubungannya sama sekali.
Dari beberapa contah di atas, jika kita berbohong ringan atau sering kita istilahkan “bohong kecil”, dampaknya ternyata besar. Anak tidak percaya lagi dengan kita sebagai orang tua. Anak tidak dapat membedakan pernyataan kita yang bisa dipercaya atau tidak. akibat lebih lanjut, anak menganggap semua yang diucapkan oleh orang tuanya itu selalu bohong, anak mulai tidak menuruti segala perkataan kita.
Apa yang sebaiknya kita lakukan? Berkatalah dengan jujur kepada anak. Ungkapkan dengan penuh kasih dan pengertian. “Sayang, Papa/Mama mau pergi ke kantor. Kamu tidak bisa ikut. Tapi kalo Papa/Mama ke kebun binatang, kamu bisa ikut.”
Kita tak perlu merasa khawatir dan menjadi terburu-buru dengan keadaan ini. Pastinya membutuhkan waktu lebih untuk memberi pengertian kepada anak karena biasanya mereka menangis. Anak menangis karena ia belum memahami keadaan mengapa orang tuanya harus selalu pergi di pagi hari.
Kita harus bersabar dan lakukan pengertian kepada mereka secara terus menerus. Perlahan anak akan memahami keadaan mengapa orang tuanya selalu pergi di pagi hari dan bila pergi bekerja, anak tidak bisa ikut. Sebaliknya bila pergi ke tempat selain kantor, anak pasti diajak orang tuanya. Pastikan kita selalu jujur dalam mengatakan sesuatu. Anak akan mampu memahami dan menuruti apa yang kita katakan. (*)

Kisah Cinta Adam AS di Jabal Rahmah


BANYAK
Jabal Rahmah
tempat bersejarah yang sangat diimpikan umat Islam untuk mengunjunginya. Misalnya Jabal Rahmah yang berada di bagian timur Padang Arafah di kota Makkah. Sesuai dengan namanya, jabal berarti sebuah bukit atau gunung, sementara Rahmah adalah kasih sayang.
Dilihat dari Sejarah Jabal Rahmah, bukit ini diyakini sebagai Lokasi Pertemuan antara Nabi Adam dan Siti Hawa setelah mereka dipisahkan dan diturunkan dari Syurga oleh Allah SWT.
Selama bertahun-tahun Nabi Adam dan Siti Hawa setelah melakukan kesalahan memakan buah khuldi yang terlarang diturunkan oleh Allah ke dunia. Berdasarkan kajian para Ulama, dilasir dari ‘Haji dari Masa ke Masa’, kemungkinan Nabi Adam diturunkan di negeri India, sedangkan Hawa diturunkan di Irak.
Setelah keduanya bertaubat untuk memohon ampun, akhirnya atas izin Allah SWT mereka dipertemukan di Puncak Bukit Jabal Rahmah ini. Setelah pertemuan tersebut, Nabi Adam dan Hawa melanjutkan hidup mereka dan melahirkan anak-anak keturunannya sampai sekarang.
Jabal Rahmah sendiri merupakan  bukit batu. Tingginya hanya sekitar 70 meter dan bisa dinaiki melewati batu-batuan terjal. Perjalanan dari bawah kaki bukit hingga sampai ke monumen Adam dan Hawa biasanya menghabiskan waktu sekitar 15 menit saja.
Di Puncak Jabal Rahmah, saat ini dibangun sebuah monumen dari beton persegi empat dengan lebar kurang lebih 1,8 meter dan tingginya delapan meter. Menuju puncak bukit ini, dibangun infrastruktur yang memadai sehingga memudahkan bagi pengunjung untuk mencapainya. Infrasktruktur ini berupa jalanan berbentuk tangga dengan 168 anak tangga menuju puncak Jabal Rahmah.
Jabal Rahmah juga merupakan tempat wahyu terakhir kepada Nabi Muhammad SAW, tatkala melakukan wukuf. Wahyu tersebut termuat dalam Al Quran surah Al Maidah ayat 3, “…Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”
Meski Ulama Saudi sendiri sudah menegaskan berziarah ke Jabal Rahmah bukanlah hal yang disunnahkan apalagi diwajibkan, nyatanya banyak peziarah berdatangan dan berdoa menengadahkan tangan di sana saat wukuf.
Jamaah haji dari berbagai dunia termasuk Indonesia, selain memadati bukit ini saat wukuf 9 Dzulhijjah. Tidak sedikit mereka menulis nama-nama agar diberikan kelancaran jodoh dan dan kelanggengan pasangan.
Selain itu, tempat ini juga digunakan untuk bermunajat dan berdo’a, serta sebagai tempat wisata sejarah dan keislaman. Di sini juga terdapat pedagang suvenir berbagai barang, mulai batu cincin, peci, tasbih, sorban dan pernak-pernik lain. Umumnya para pedagang ini adalah para pendatang yang berasal dari Afrika.
Di lokasi Jabal Rahmah ini juga terdapat unta bagi para wisatawan yang ingin mencoba menaiki unta. Para pemilik unta akan mendatangi para wisatawan untuk menawarkan unta mereka sambil befoto. Tarif menaiki unta ini anta lima sampai 10 real. (*)

Minggu, 29 Januari 2017

Menghafal Alquran Jangan Banyak Berpikir tapi Perbanyak Syukur

Tak ada kata terlambat menghafal ayat-ayat Alquran.

 Saat Terbaik Adalah ketika Membaca Alquran

SEMUA manusia pada hakikatnya punyat tiket menghafal Alquran. Menurut Ustaz Abdul Aziz Abdur Rauf Lc, setiap manusia tinggal memilih, ambil seluruhnya atau sebagian, 30 juz atau juz 30.
''Bagaimana kalau sudah dewasa? Selama masih hidup, insya Allah bisa hafal Alquran,'' kata Ustaz Abul Aziz dalam kajian bertajuk Sekeluarga Hafal Alquran yang digelar Majelis Taklim Wirausaha (MTW) di Masjid Jenderal Sudirman WTC, Jakarta, Ahad (29/1/2017).
Sejak menghafal Alquran pada 1984, ia merasa terpanggil untuk memberikan metode mudah menghafal kitab suci yang diturunkan Allah subhanahu wa ta'ala kepada Nabi Muhammad shallahu alaihi wassalam tersebut. Sebab menurut dia, jika umat Islam tidak hafal Alquran, rugi sekali.
Ia berkata, seorang Muslim harus khawatir kalau lisannya mengucapkan hal yang tidak diapresiasi Allah subhanahu wa ta'ala. Saat terbaik adalah saat membaca Alquran. Menghafal Alquran pakai metode apa saja, kunci pertamanya adalah istiqamah sampai akhir hayat.
''Jangan berprasangka buruk sama Allah subhanahu wa ta'ala. Niat ingin hafal Alquran itu mulia. Niatkan hafal 30 juz, kalau prosesnya hanya hafal tiga juz atau juz 30, ya tidak apa,'' kata Ustaz Abul Aziz.
Lagi pula di Alquran dan hadits tidak ada yang menyebut kata hafal, yang ada adalah shahibul Alquran. Idealnya seorang Muslim bisa enam kemampuan atas Alquran hafal. Jika tidak mampu semua, maka cari cara lain yang dinilai mampu.
Kedua, menghafal bersama Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sebab, kata dia,Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkan Alquran sebagai sebaik-baik bacaan. Semangatnya, dengan hafal Alquran jadi dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Maka, amat perlu menghadirkan semua nilai akidah.
''Doa tiap hari minta bantuan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Berterima kasih pada Allah Subhanahu wa Ta'ala yang memberi hidayah menghafal Alquran. Semangat bersama Allah Subhanahu wa Ta'ala. Jangan menghafal pakai logika,'' ungkap penulis buku Anda Pun Bisa Jadi Hafidz Alquran itu.
Untuk mereka yang sudah dewasa, fokus menghafal Alquran bukan pada target tapi berapa lama waktu yang dikomitmenkan untuk menghafal. Jangan banyak berpikir, banyak bersyukur sudah punya waktu bersama Alquran.
Saat sudah membuktikan komitmen, Allah SWT beri rasa ketagihan dengan Alquran. Kalau sudah begitu, menghafal 30 juz itu pasti bisa. (*)

http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/17/01/29/okj9hz282-dua-kunci-mudah-menghafal-alquran

Jumat, 27 Januari 2017

Bekerja dan Belajar karena Allah

Berlatih dan belajar karena Allah banyak keuntungannya.
SYAHDAN ketika seorang pemuda berjabatan tangan dengan Rasul SAW, tiba-tiba Rasul mencium tangan pemuda itu sambil berkata, “Inilah kedua tangan yang dicintai Allah SWT.” (HR Jamaah).
Kedua tangan pemuda itu keras dan agak kasar yang mencerminkan bahwa ia seorang pekerja keras yang tidak mengenal lelah.
Tergambar pula dari raut wajahnya dan penampilan fisiknya. Ternyata sosok Muslim pekerja keras inilah yang dicintai dan dibanggakan oleh Rasulullah SAW. Memang, Islam adalah agama yang mendorong umatnya untuk selalu bekerja dan bekerja dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan, mempersembahkan kerja dan amal yang terbaik (ihsan), baik dalam kait annya dengan Allah SWT maupun dengan sesama manusia, bahkan dengan dirinya sendiri.
Karena, hanya dengan cara inilah seorang Muslim akan meraih kebahagiaan yang hakiki di dunia maupun akhirat. “Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS at-Taubah [9]: 105).
“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya (bekerja keras) dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS al-Mulk [67]: 15).
Rasul SAW sangat memuji orang yang berusaha dan bekerja mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya, seperti digambarkan dalam hadis di atas dan ha dis riwayat Imam Bukhari No 1.470;  “Sesungguhnya seseorang dari ka lian pergi mencari kayu bakar yang dipikul di atas pundaknya itu lebih baik daripada meminta-minta, baik diberi atau tidak.” Dalam hadis lain riwayat Bukha ri No 2.072. “Tidak lah seseorang makan makan an yang lebih baik daripada hasil usaha nya sendiri dan Nabi Dawud AS juga makan dari usahanya sendiri.”
Bahkan, jika seseorang tertidur kelelahan karena mencari rezeki yang halal, tidurnya itu akan dipenuhi dengan ampunan dari Allah SWT (HR Imam Tabrani). Sebaliknya, Rasulullah SAW sa ngat membenci bermalas-malasan, tidak mau bekerja. Dan, beliau selalu memohon perlindungan Allah SWT dari sifat malas.
“Allahumma inni a’udzu bika minal ‘ajzi wal kasali wal jubni wal harami wa a’udzu bika min fitnatil mahya wal mamat wa a’udzu mika min ‘adzabil qabri“ (Ya Allah aku berlindung kepada- Mu dari sikap lemah, malas, pengecut, dan kepikunan dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan kematian dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur).” (HR Bukhari).
Karena itu, kita harus bersyukur dan memberikan apresiasi (penghargaan) yang tinggi kepada generasi muda, seperti pelajar SMK yang telah berhasil membuat mobil dan merakit sebuah pesawat dengan kerja keras sendiri, di bawah bimbingan para gurunya dalam team work yang solid. Kita yakin masih banyak gene rasi muda harapan bangsa yang cinta kerja untuk membangun masa depannya dan masa depan bangsa dan masyara kat nya. Wallahu a’lam. (*) 

http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/17/01/23/ok8mz7313-menghargai-kerja-keras

Awas Keliru, Mendidik Anak Harus Sesuai Zamannya

SABDA Rasulullah SAW: "Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian". Artinya, ilmu itu bersifat dinamis dan tidak tetap, keberadaannya menyesuaikan dengan kondisi sekarang dan kehidupan masa depan.
Dari hadist tersebut, sudah sangat jelas bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini serba berubah. Sesuatu yang hari ini istimewa, tapi pada 10 atau 20 tahun mendatang bisa jadi hanya hal yang biasa-biasa saja. Sesuatu yang hari ini mustahil, bisa jadi pada 10 atau 20 tahun mendatang adalah hal yang sangat mudah sekali.
Pada tahun 1981 atau sekitar 35 tahun lalu, tamatan SMA/ MA sederajat sangat dicari- cari untuk diusulkan jadi pegawai negeri sipil (PNS), tapi sekarang atau sejak 5 tahun terakhir, jenjang SMA sama sekali tidak masuk dalam kategori penerimaan pegawai, kecuali honorer. Kondisi tersebut terus berubah, bahkan saat ini tamatan S1 atau S2 sudah tidak terlalu istimewa lagi, apalagi dimasa depan. Fenomena itu menggambarkan kemajuan zaman yang terus berubah.
Karena itu, agar para guru, para orang tua terus mengembangkan pengetahuannya dalam Ilmu Pengetahuan, dan mengajarkan anak- anak sesuai dengan kepentingan masa yang akan datang, bukan masa kini apalagi masa lalu. Ketika zaman berubah tentu tantangannyapun berubah, baik itu tantangan untuk bertahan hidup, tantangan dalam pergaulan, tantangan dalam menuntut ilmu serta tantangan-tantangan lainnya. Perubahan zaman inipun berdampak pada perubahan cara kita mendidik dan berkomunikasi dengan anak.
Pelajaran di masa sekolah dahulu telah berubah. Dari mulai masa-masa berburu, dimana manusia bertahan hidup dengan cara cara berburuh, kemudian berkembang dengan mulai bercocok tanam, kemudian berkembang lagi dengan mulai pandai mengelolah hasil cocok tanam/ industri.
Seiring perkembangan zaman, berbagai macam teknologi mulai berkembang, seperti ditemukannya mesin dan sekarang masuk masa informasi. Jadi dapat kita lihat, orang yang paling sukses adalah mereka yang paling cepat menguasai informasi hal ini ditandai dengan serba mudahnya kita mendapatkan akses untuk sebuah informasi melalui teknologi digital.
Semua orang bisa menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, karena pada dasarnya manusia dianuegerahi kecerdasan, ada jutaan sel didalam kepala manusia untuk menopang itu. Bedanya adalah kesungguhan manusia untuk menggunakan otak, padahal semakin sering digunakan maka semakin pintar seseorang, tapi sebaliknya, semakin jarang otak digunakan maka otak akan semakin tumpul.
Sumber ilmu pengetahuan itu ada dalam Islam. Itu dijelaskan dalam banyak ayat dan hadist. Bahkan Allah akan meninggikan orang- orang yang berilmu pengetahuan beberapa derajat, dan sumber kebahagian dunia dan akhirat adalah dengan ilmu pengetahuan.
Untuk itu, kondisi tersebut menjadi 'PR' bagi guru dan orang tua dalam mempersiapkan anak- anak agar siap menghadapi tuntutan zamannya. Sehingga anak menjadi anak yang bermanfaat serta berdaya guna serta jadi amal kebaikan orang tua kelak.
Kurikulum 2013 berusaha menyesuaikan dengan kondisi dinamis pendidikan, dimana didalamnya tidak hanya menekankan siswa untuk belajar ilmu-ilmu umum, tetap juga agama, etitut dan lainnya sesuai dengan kebutuhan saat ini dan akan datang. Untuk itu, guru dan orang tua sangat berperan dalam membawa masa depan anak. Untuk itu, orangtua dan guru dapat berperan aktif dalam pendidikan anak- anak nya, sehingga tumbuh dan kembang sesuai yang dibutuhkan zaman dengan tidak lepas dari kontrol agama. (*)

http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/17/01/27/okfe0i396-didiklah-anak-sesuai-zamannya

Kamis, 26 Januari 2017

Terdidik Berarti Punya Budi Pekerti

DISKUSI - Siswa MA 45 Gianyar tengah asyik diskusi di teras perpustakaan.
PENDIDIKAN budi pekerti menjadi persoalan serius kita. Karena dikucilkan puluhan tahun, kini melacaknya bagai mencari jarum di tumpukan jerami.  Sebagai suatu materi pendidikan, pendidikan budi pekerti timbul tenggelam dalam kurikulum pendidikan nasional di Indonesia. Tanda kita tak serius membentuk manusia Indonesia yang cerdas dan berakhlak mulia.
Bicara pendidikan, intinya budi pekerti. Karena budi pekerti dianggap sepele, kita sekadar mengajarkan ilmu tentang budi pekerti. Bukan mendidik budi pekerti. Dalam pandangan Imam Al-Ghazali, belajar adalah proses jiwa yang bertujuan untuk membentuk akhlak yang mulia. Jiwa yang baik menghasilkan akhlakul karimah, sedangkan jiwa yang buruk menghasilkan akhlak mazhmumah. Maka, tugas sejati pendidikan adalah mendidik jiwa (qalbu) anak dengan siraman iman.
Rasulullah SAW bersabda: "Ketahuilah, bahwa di dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging, apabila segumpal daging itu baik, akan baik pula (amal dan perilaku) semua jasadnya. Dan, apabila segumpal daging itu buruk, akan buruk pula (amal dan perilaku) semua jasadnya. Ketahuilah, segumpal daging itu namanya Qalbu." (HR. Muslim)
Ketika anak sudah berani membantah nasihat orang tua, berkata-kata kasar dan menyakiti perasaan orang tua, apakah ada pendidikan budi pekerti di rumah? Mengapa pula ada orang tua yang resah karena anaknya tidak juara kelas, tetapi tak resah ketika anaknya berani meninggalkan shalat?
Setali tiga uang dengan yang terjadi di sekolah. Banyak orang terpelajar, tapi tak terdidik. Terpelajar bicara kecerdasan, terdidik bicara budi pekerti. Gelarnya tinggi, tapi perilakunya membuat masyarakat prihatin. Inilah akibat jika manusia hanya dilatih kecerdasannya saja tanpa dididik budi pekertinya. Beruntunglah keluarga dan sekolah yang istiqamah mendidik dan menyucikan jiwa anak-anak sehingga menjadi manusia berbudi pekerti luhur (QS asy-Syams: 9 – 10).
Orang tua dan guru hendaknya setia membimbing anak kepada akhlak mulia. Diriwayatkan dari Anas RA yang telah menceritakan, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda kepadanya: "Wahai anakku, jika engkau mampu membersihkan hatimu dari kecurangan terhadap seseorang, baik pagi hari maupun petang hari, maka lakukanlah!" Selanjutnya, beliau melanjutkan: "Wahai anakku, yang demikian itu termasuk tuntunanku. Barang siapa yang menghidupkan tuntunanku, berarti ia mencintaiku, dan barang siapa yang mencintaiku, niscaya akan bersamaku di dalam surga." (HR Tirmidzi).
Idealnya, mendidik budi pekerti pada diri anak-anak dilakukan sejak dini. Imam Al-Ghazali, dalam kitabnya Ihya Ulumuddîn, menjelaskan beberapa cara untuk mendidik budi pekerti anak-anak, "... Hendaknya dia dilarang memulai pembicaraan dan dibiasakan untuk tidak berbicara selain untuk menjawab sesuai dengan kadar pertanyaan. Hendaklah dia dibiasakan untuk mendengar dengan baik jika orang lain yang lebih besar daripadanya berbicara, berdiri menghormat orang yang lebih atas daripadanya, meluaskan tempat duduk baginya, duduk di hadapannya dengan sopan, tidak mengeluarkan kata-kata yang tidak ada gunanya dan kata-kata yang kotor, tidak mengeluarkan kutukan dan makian, serta tidak bergaul dengan orang yang mulutnya biasa mengeluarkan sesuatu dari kata-kata tersebut. Demikian, itu karena sesungguhnya hal itu pasti karena terpengaruh dari teman-teman yang buruk, padahal pokok pendidikan bagi anak-anak adalah menghindarkannya dari teman-teman yang jahat." (Abdur Rahman, 135)
Sebagai orang tua dan guru, didiklah diri sendiri sebelum kita mendidik anak-anak. Karena tanpa keteladanan, pendidikan budi pekerti tak akan pernah bisa melahirkan generasi cerdas dan berakhlak mulia. Mendidik budi pekerti bukan berwacana. Dengan niat dan ikhtiar mendidik karena mengharap ridha Allah SWT, alangkah lebih baiknya jika disempurnakan dengan doa yang kerap dipanjatkan Rasulullah SAW supaya kita senantiasa diberi kemuliaan akhlak: "Ya Allah, tunjukkanlah aku kepada akhlak yang paling baik, karena tiada seorang pun yang mampu menunjukkan hal ini kecuali Engkau. Ya Allah, jauhkanlah aku dari akhlak yang buruk, karena tidak ada yang dapat menjauhkan hal itu kecuali Engkau." (HR Ahmad). Wallahu a'lam bishawab. (*)

http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/17/01/25/okbs4r313-pendidikan-budi-pekerti

Es Pisang Ijo IPA X Jadi Penolong

SAATNYA anak-anak Madrasah Aliyah (MA) 45 Gianyar beraksi nih. Like it or not, anak MA harus bisa masak atau berkaya. Hasilnya, olahan masakan yang dibuat gak kalah enak tuh sama anak Tata Boga.
Rasa penasaran saya tertuju pada anak-anak kelas IPA X. Pagi-pagi sudah sibuk membawa daun pisang yang ada di belakang sekolah. Setelah ditanya, ternyata mereka akan praktek membuat es pisang ijo nih.
Saya pun mengkiti anak-anak ke kelas. Benar saja siswa dan siswinya tengah sibuk mengolah masakan. Ada yang memotong pisang, mengaduk adonan tepung. Harum dari daun pisang yang dikukus pun cukup mengundang selera. Saya dibuat ngiler.
Tak butuh waktu lama, olahan es pisang ijo berhasil disajikan. Selain jago mengolah, mereka pun terampil membuat topingnya. Rasanya enak, dan kemasannya pun cantik. Yah begitulah kira-kira melihat olahan karya anak  IPA X.
Saatnya icip-icip! Es pisang ijo terasa segar saat disantap. Rasanya nikmat dan menghilangkan rasa haus. Selain karena rasannya yang segar dan juga enak, es pisang ijo ini sangat menarik tampilannya, pisang yang dibaluti adonan berwarna hijau. Rasanya manis legit membuat saya nambah lagi. Merasa tertolong dari lapar, he...
Selain bahan-bahan yang dipilihnya sangat pas, pemilihan pisang ini pun juga sangat tepat. Pisang yang mempunyai banyak serat, selain membuat segar, juga mengganjal perut dari rasa lapar. Paduan pisang dan tepung beras plus bubur, sirop dan (*)


Kira-kira inilah bahan-bahannya:
Pisang Ijo:
200 g tepung beras
1 sdm tepung kanji
50 g gula pasir
2 sdm air daun suji pandan
400 ml santan encer
6 buah pisang kepok/tanduk/raja sereh, kupas
daun pisang/plastik tebal
Bubur:
100 g tepung beras
600 ml santan segar yang sedang kentalnya
1 lembar daun pandan
1/2 sdt garam
Pelengkap:
Santan matang
Sirop Merah
Es Batu

Cara membuat:
Pisang Ijo:
Aduk tepung beras, tepung kanji, gula, air daun suji dan santan hingga larut.
Masak di atas api kecil sambil aduk-aduk hingga kental dan matang.
Angkat dan dinginkan.
Ambil 2-3 sdm adonan, ratakan di atas selembar daun pisang atau plastik tebal.
Beri sepotong pisang di tengahnya. Bentuk adonan seperti pisang.
Kukus dalam kukusan panas selama 30 menit hingga matang.
Angkat dan dinginkan.
Bubur:
Aduk tepung beras dengan santan, pandan dan garam hingga larut.
Masak di atas api sedang hingga kental dan matang.
Angkat dan dinginkan.
Penyajian : Potong-potong pisang ijo, taruh di mangkuk saji.
Beri bubur, santan, sirop merah dan es batu.
Sajikan.