Tampilkan postingan dengan label laelani.semangat45. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label laelani.semangat45. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Januari 2017

Es Pisang Ijo IPA X Jadi Penolong

SAATNYA anak-anak Madrasah Aliyah (MA) 45 Gianyar beraksi nih. Like it or not, anak MA harus bisa masak atau berkaya. Hasilnya, olahan masakan yang dibuat gak kalah enak tuh sama anak Tata Boga.
Rasa penasaran saya tertuju pada anak-anak kelas IPA X. Pagi-pagi sudah sibuk membawa daun pisang yang ada di belakang sekolah. Setelah ditanya, ternyata mereka akan praktek membuat es pisang ijo nih.
Saya pun mengkiti anak-anak ke kelas. Benar saja siswa dan siswinya tengah sibuk mengolah masakan. Ada yang memotong pisang, mengaduk adonan tepung. Harum dari daun pisang yang dikukus pun cukup mengundang selera. Saya dibuat ngiler.
Tak butuh waktu lama, olahan es pisang ijo berhasil disajikan. Selain jago mengolah, mereka pun terampil membuat topingnya. Rasanya enak, dan kemasannya pun cantik. Yah begitulah kira-kira melihat olahan karya anak  IPA X.
Saatnya icip-icip! Es pisang ijo terasa segar saat disantap. Rasanya nikmat dan menghilangkan rasa haus. Selain karena rasannya yang segar dan juga enak, es pisang ijo ini sangat menarik tampilannya, pisang yang dibaluti adonan berwarna hijau. Rasanya manis legit membuat saya nambah lagi. Merasa tertolong dari lapar, he...
Selain bahan-bahan yang dipilihnya sangat pas, pemilihan pisang ini pun juga sangat tepat. Pisang yang mempunyai banyak serat, selain membuat segar, juga mengganjal perut dari rasa lapar. Paduan pisang dan tepung beras plus bubur, sirop dan (*)


Kira-kira inilah bahan-bahannya:
Pisang Ijo:
200 g tepung beras
1 sdm tepung kanji
50 g gula pasir
2 sdm air daun suji pandan
400 ml santan encer
6 buah pisang kepok/tanduk/raja sereh, kupas
daun pisang/plastik tebal
Bubur:
100 g tepung beras
600 ml santan segar yang sedang kentalnya
1 lembar daun pandan
1/2 sdt garam
Pelengkap:
Santan matang
Sirop Merah
Es Batu

Cara membuat:
Pisang Ijo:
Aduk tepung beras, tepung kanji, gula, air daun suji dan santan hingga larut.
Masak di atas api kecil sambil aduk-aduk hingga kental dan matang.
Angkat dan dinginkan.
Ambil 2-3 sdm adonan, ratakan di atas selembar daun pisang atau plastik tebal.
Beri sepotong pisang di tengahnya. Bentuk adonan seperti pisang.
Kukus dalam kukusan panas selama 30 menit hingga matang.
Angkat dan dinginkan.
Bubur:
Aduk tepung beras dengan santan, pandan dan garam hingga larut.
Masak di atas api sedang hingga kental dan matang.
Angkat dan dinginkan.
Penyajian : Potong-potong pisang ijo, taruh di mangkuk saji.
Beri bubur, santan, sirop merah dan es batu.
Sajikan.

Selasa, 24 Januari 2017

Beri Nasihat Secara Rahasia

NASIHAT memiliki tempat yang penting dalam agama Islam. Memberi nasihat dapat memantapkan persaudaraan di antara umat Islam. Terlebih, bila nasihat yang disampaikan seorang Muslim semata-mata hanya karena Allah dan muncul sebagai wujud kasih sayang terhadap saudaranya.
Tak heran jika Nabi Muhammad SAW menjadikan nasihat sebagai tiang agama sekaligus barometer dalam melaksanakan agama. Tamim ad-Dari RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, ''Agama itu nasihat.'' (HR Bukhari dan Muslim).
Rasulullah SAW senantiasa memberikan nasihat dan wasiat kepada para sahabat dan umatnya.  Syekh Mahmud al-Mishri  dalam Ensiklopedi Akhlak Muhammad SAW, mengungkapkan, secara bahasa nasihat diambil dari kata an-nashihah.  Ibnu Manzur menjelaskan, nashahasy-syai berarti ''sesuatu itu murni''.
An-Nashih artinya sesuatu yang murni dari amal dan lainnya. Sedangkan an-Nush artinya ikhlas dan jujur di dalam musyawarah dan amal. Menurut Ibnu Atsir, nasihat adalah kata yang dipergunakan untuk mengungkapkan keinginan yang baik bagi orang yang dinasihati.
''Nasihat adalah mengajak orang lain untuk melaksanakan sesuatu yang mengandung kemaslahatan dan melarang mengerjakan sesuatu yang mengandung kerusakan,'' papar ahli bahasa dari abad ke-11 M, Abu Bakr Abd ul Qahir ibnu Abdur-Rahman al-Jurjan. Nasihat itu tentunya mencakup Allah SWT,  rasul-Nya, Kitab-Nya, para pemimpin umat dan kaum Muslimin secara umum.
Sebuah nasihat haruslah disampaikan sebagai bentuk rasa cinta yang murni kepada orang lain, tentunya lewat pesan-pesan yang mengantarkan orang lain menuju kepada kemaslahatan. Menurut Dr Muhammad al-Hasyimi, sekecil apapun nasihat yang disampikan  bernilai mulia di hadapan Allah.
Dalam sebuah hadis Nabi SAW bersabda, ''Agama adalah ketulusan (nashihah).'' Kami bertanya, ''Kepada siapa?'' Beliau bersabda, ''Kepada Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin Muslim dan masyarakat umum.'' (HR Muslim).  Menurut Syekh al-Mishri, memberi nasihat termasuk sifat para nabi. Sebab, para nabi tak pernah bosan untuk memberi nasihat kepada kaumnya untuk beriman.
Agar saat menyampaikan nasihat menuju kebenaran dapat tersampaikan dengan baik, seorang Muslim perlu memperhatikan etika memberi nasihat kepada orang di sekeliling kita. Lantas apa saja etika memberi nasihat itu? Syekh al-Mishri mengungkapkan ada beberapa etika dalam memberi nasihat kepada orang lain:
Pertama, niat tulus hanya karena Allah SWT.  Pemberi nasihat hanya mengharapkan ridha Allah dan balasan di akhirat. Ia menyampaikan nasihat bukan karena ingin mendapatkan keuntungan duniawi, riya (ingin dipuji orang lain) dan sum'ah (menceritakan kebaikannya kepada orang lain).
Kedua, berdasarkan ilmu. Memberi nasihat dengan ilmu merupakan sebuah keharusan dalam arti menguasai materi yang akan dinasihatkan. Tanpa didasari ilmu, bisa jadi seseorang akan menasihati dengan hal-hal yang munkar dan justru melarang yang makruf (baik).
Ketiga, berhias diri dengan akhlak lemah lembut. Pemberi nasihat wajib memiliki akhlak yang lemah lembut dan santun dalam menyampaikan nasihat. Hal ini diperintahkan Allah SWT kepada Nabi Musa AS dan Harun AS saat berdakwah kepada Firaun. ''Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Firaun) dengan kata-kata yang lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.'' (QS Thaha:44).
Keempat, memilih cara yang tepat. Cara memberi nasihat berbeda-beda sesuai dengan situasi, kondisi dan kepribadian seseorang. Dalam banyak keadaan, manusia justru membutuhkan nasihat melalui keteladanandari seorang figur. Menasihati anak-anak berbeda dengan menasihati orang dewasa.
Kelima, tidak bertujuan mencela atau menyebarkan keburukan. Keenam, nasihat meliputi urusan agama dan dunia. Ketujuh, menasihati secara rahasia. Kedelapan, si pemberi nasihat wajib bersabar bila orang itu tidak bersedia menerima nasihatnya.
Syekh al-Mishiri, mengingatkan bahwa nasihat yang paling utama adalah nasihat untuk diri sendiri.  ''Dia harus menasihati diri sendiri sebelum menasihati orang lain,'' tuturnya.  Mereka yang menipu dirinya sendiri, tidak bisa diharapkan dapat menasihati orang lain. Allah SWT mencela orang-orang yang memerintahkan kebaikan kepada orang lain, namun dia sendiri tidak melaksanakannya.
''Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.'' (QS ash Shaff: 2-3).
Nasihat yang disampaikan dengan tulus, papar Syekh al-Mishri, dapat berpengaruh besar terhadap diri seseorang dan mendorongnya untuk melaksanakan nasihat yang diterimanya. Pada akhirnya, nasihat atau wasiat akan menjadi bagian takwa, mengingat kebenaran dan berpikir. (*)

Lahirnya Gerakan Pembaharuan Dunia Islam

AA/WORLD BULETIN

GERAKAN pembaharuan Islam adalah suatu upaya untuk menyesuaikan (kontekstualisasi) ajaran Islam dengan perkembangan baru yang ditimbulkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Dalam bahasa Arab, gerakan pembaharuan disebut dengan tajdîd. Secara harfiah tajdîd berarti pembaharuan, dan pelakunya disebut dengan mujaddid.
Tradisi pembaharuan dalam Islam sebenarnya telah berlangsung lama sejak masa-masa awal sejarah Islam. Karena dalam Islam setiap kali terjadi masalah baru yang belum ada ketentuan hukum sebelumnya, maka kaum muslim segera akan mencari jawabannya (ber-ijtihad) melalui metode ijma’, qiyas dan sebagainya dengan tetap merujuk pada al-Qur’an dan al-hadits.
Dalam hal ini Rasulullah Saw pernah mengisyaratkan, “sesungguhnya Allah akan mengutus kepada umat ini (Islam) pada permulaan setiap abad orang-orang yang akan memperbaiki (memperbaharui) agamanya” (HR. Imam Abu Dawud). Namun demikian, istilah tajdid atau pembaharuan dalam Islam baru populer pada awal abad ke-18 M, tepatnya setelah munculnya gaung pemikiran dan gerakan pembaharuan Islam di Mesir, sebagai imbas dari persinggungan politik dan intelektual antara Islam dengan dunia Barat. Gerakan pembaharuan dalam Islam, yang oleh beberapa pakar disebut juga gerakan modernisasi atau gerakan reformasi Islam, adalah gerakan yang dilakukan untuk menyesuaikan ajaran Islam dengan tatanan dunia baru yang diakibatkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.
Dengan pembaharuan itu para pemimpin Islam berharap agar umat Islam terbebas dari ketertinggalan, bahkan dapat mencapai kemajuan yang setara dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Dengan kata lain, istilah modernisasi berarti sebuah bentuk perubahan tatanan (transformasi) dari keadaan yang kurang maju atau kurang berkembang ke arah yang lebih baik, dengan harapan akan tercapai kehidupan masyarakat yang lebih maju, berkembang, dan makmur.
Dengan demikian, pembaharuan dalam Islam bukan berarti mengubah, mengurangi, atau menambahi teks al-Qur’an maupun al-hadits, melainkan hanya menyesuaikan pemahaman atas keduanya dalam menjawab tantangan zaman yang senantiasa berubah (kontekstualisasi ajaran Islam). Hal ini, menurut para tokoh pembaharuan Islam, dikarenakan terjadinya kesenjangan antara yang dikehendaki al-Qur’an dengan kenyataan yang terjadi di masyarakat. Oleh karenanya diperlukan upaya pembaharuan dalam pemikiran dan keagamaan masyarakat sehingga dapat sejalan dengan spirit al- Qur’an dan as-Sunnah.
Maka dengan demikian, pembaharuan Islam mengandung maksud mengembalikan sikap dan pandangan hidup umat Islam agar sejalan dengan semangat al-Qur’an dan as- Sunnah sebagaimana dicontohkan ulama salafus shalih terdahulu. Pemikiran pembaharuan atau modernisasi dunia Islam timbul terutama karena adanya kontak yang terjadi antara dunia Islam dan Barat. Dengan adanya kontak itu, umat Islam abad XIX mulai menyadari bahwa mereka telah mengalami kemunduran dibandingankan dunia Barat yang pada saat itu mulai menemukan titik kemajuan peradaban.
Sebelum periode modern, hubungan atau kontak antara Islam dan Barat sebenarnya sudah terjadi, terlebih antara Kerajaan Utsmani (yang mempunyai daerah kekuasaan di daratan Eropa) dengan beberapa negara Barat. Namun kontak dengan kebudayaan Barat ini semakin intens saat jatuhnya kekuatan Mesir oleh Napoleon Bonaparte dari Perancis, disusul dengan imperialisasi Barat terhadap negara-negara muslim lainnya.
Kondisi itu akhirnya membuka pemikiran pemuka-pemuka intelektual dan pemerintahan Islam di Mesir untuk segera mengadakan upaya-upaya pembaharuan.Di antara hal-hal yang mendorong lahirnyanya gerakan pembaharuan dan modernisasi Islam adalah:

1. Adanya sifat jumud (stagnan) yang telah membuat umat Islam berhenti berpikir dan berusaha. Selama umat Islam masih bersifat jumud dan tidak mau berpikir (berijtihad) maka mereka tidak mungkin mengalami kemajuan. Kemajuan masyarakat hanya akan bisa tercapai melalui pengkajian ilmu pengetahuan yang terus menerus untuk kemudian diaplikasikan dalam teknologi terapan dan kehidupan sosial yang nyata demi kemajuan masyarakat. Untuk itulah maka perlu diadakan upaya pembaharuan dengan memberantas sikap jumud dan menggerakkan kembali tradisi ijtihad di kalangan umat Islam.

2. Persatuan di kalangan umat Islam mulai terpecah belah. Umat Islam tidak akan mengalami kemajuan apabila tidak ada persatuan dan kesatuan yang diikat oleh tali ukhuwah Islamiyah. Karena itu maka lahirlah suatu gerakan pembaharuan yang berupaya memberikan inspirasi kepada seluruh umat Islam untuk bersatu dan melawan imperialisme Barat.

3. Hasil adanya kontak yang terjadi antara dunia Islam dan Barat. Dengan adanya kontak ini mereka sadar bahwa mereka mengalami kemunduran dibandingkan Barat. Terutama pasca terjadinya peperangan antara kerajaan Utsmani dengan kerajaan Eropa, di mana pada masa-masa sebelumnya kerajaan Utsmani selalu menang dalam peperangan namun saat itu mengalami kekalahan. Hal ini membuat tokoh-tokoh kerajaan Utsmani berupaya menyelidiki rahasia kekuatan militer Eropa. Ternyata rahasianya adalah “sistem militer modern” yang dimiliki Eropa, sehingga pembaharuan dalam dunia Islam pun salah satunya dipusatkan pada bidang militer.

4. Meski demikian, pembahuran dalam Islam berbeda dengan renaissance dalam dunia Barat. Jika renaissance Barat muncul dengan cara “menyingkirkan” peran agama dari kehidupan masyarakat, maka pembaharuan Islam sebaliknya, yakni untuk tujuan memperkuat prinsip dan ajaran Islam itu sendiri demi kemashlahatan dunia secara lebih luas. Pada saat dunia Islam mengalami kemunduran, bangsa Barat justru mengalami kemajuan dan berhasil melakukan ekspansi wilayah perdagangan baru.

Meski jalur strategis perdagangan yang selama itu menjadi jalur internasional telah dikuasai oleh umat Islam sehingga bangsa Barat sulit melakukan transaksi-transaksi perdagangan melalui jalur tersebut, namun dengan didukung oleh kesuksesan Christoper Columbus (1492M) yang berhasil menemukan benua Amerika, juga Vasco da Gama yang berhasil menemukan jalur ke Timur melalui Tanjung Harapan pada tahun 1498M,telah menjadikan Benua Amerika dan kepulauan Hindia jatuh ke tangan bangsa Eropa (Barat). Akibat dibukanya dua jalur perdagangan baru tersebut, maka Barat tidak lagi tergantung pada jalur lama yang telah dikuasai umat Islam. Adanya jalur perdagangan yang semakin luas itu maka dengan sendirinya akses perdagangan Barat semakin luas pula, dan tentunya semakin meningkatkan nilai ekspor dan perekonomian bangsa Barat melampaui dunia Islam.
Kemajuan bangsa Barat yang diraih secara berturut-turut pasca perang salib, didorong oleh adanya gerakan perluasan perdagangan, dan dipercepat dengan adanya gerakan penggalian ilmu pengetahuan atau revolusi ilmu pengetahuan pada abad ke 16 dengan munculnya para ilmuwan seperti Francis Bacon, René Descartes, Galileo Galilei, serta adanya pengembangan riset dan penelitian dengan didirikannya lembaga-lembaga riset seperti The Royal Improving Knowledge, The Royal Society of England, dan The French Academy of Science.
Menyusul kemudian aplikasi dari teori-teori baru dan hasil-hasil penelitian tersebut dalam bentuk mesin-mesin pendukung industri, hingga muncullah gerakan Revolusi Industri di Barat (1750-1850M). Revolusi Industri menimbulkan terjadinya perubahan secara besar-besaran di bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi serta memiliki dampak yang mendalam terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan budaya di dunia.
Revolusi Industri dimulai dari Britania Raya (Inggris) lalu menyebar ke seluruh Eropa Barat, Amerika Utara, Jepang, dan akhirnya ke seluruh dunia hingga saat ini. Dalam melakukan ekspansi perdagangan itu, bangsa Barat ternyata bukan hanya memiliki motif ekonomi tapi juga motif kekuasaan dan menyebarkan agama (Kristen). Tiga misi ini dikenal dengan istilah gold, glory dan gospel (3-G) yang diterapkan dalam menaklukkan negara-negara Islam di dunia. (*)

Jumat, 20 Januari 2017

Cita-Cita dan Cinta

Hasil gambar untuk cita-cita
net: ilustrasi meriah cita-cita

SEORANG bijak berkata, “Jangan Hanya Sibuk Menghitung Hari, Tapi Buatlah Hari-Hari Itu Menjadi Bermakna.” (Muhammad Ali). Yah, saya ingin makna dalam tiap menit ini jadi modal untuk mengejar cita-cita.
Dulu saya memiliki cita-cita. Sayang, karena asyik membuang waktu, rasa sesal kini seakan menjadi tumor akut yang sulit disembuhkan. Namun, nasi sudah jadi bubur, saya ingin mengubah bubur itu menjadi lezat dan manfaat bagi banyak orang.
Setiap orang yang berpikiran ke depan pasti memiliki cita-cita. Entah itu tinggi, sedang, atau sederhana. Semua orang berhak untuk bercita-cita dan untuk memperjuangkannya sampai cita-cita itu bisa diraih.
Bahkan ada pepatah yang mengatakan, “Gantungkan cita-citamu setinggi langit!” Ini maksudnya agar hidup kita mempunyai tujuan dan ada sesuatu yang akan kita perjuangkan untuk kita raih.
Dibandingkan orang yang tidak memiliki cita-cita—yang biasanya hidup asal hidup, tanpa memiliki tujuan yang pasti—orang yang bercita-cita akan lebih optimistis dalam kesehariannya, punya tujuan hidup dan melangkah pasti menjadi manusia pembelajar.
Namun, jangan sampai kita disebut sedang meraih cita-cita dengan banyak tidur di kelas atau di rumah, alasanya sedang menggapai mimpi. Yang pasti, dan saya rasakan, cita-cita sederhana bisa jadi penuh makna jika kita benar-benar memimpikannya.
Cita-cita ini harus ditanam sejak di bangku sekolah. Karena itu adalah anak tangga yang harus dipijak dan dilalui untuk mencapai puncak cita-cita dan harapan. Nah, masalahnya, di bangku sekolah atau anak sekolah saat ini, musuhnya satu, eh dua, eh banyak deh.
Mulai dari bolos, urakan seenaknya, tawuran, nongkrong, gaya-gayaan meski modal cekak, dan pacaran. Lalu timbul pikiran, bisa nggak, cita-cita dan segudang masalah anak sekolah berjalan beriringan. Jawabannya, yah tunggu aja anda saat usia dewasa untuk pembuktiannya.
Sedikit melow, kalau cita-cita dan cinta bisa bergandengan bersama? Saya yang sudah pengalaman sih, akan menjawab tidak. Saya pernah jatuh bangun mengejar "anak tangga" ulangan sekolah. Alasannya sederhana, karena telat bangun lantaran semalaman ngabisin pula gratisan sama si dia.
Lalu, jadi rajin sekolah, tapi ortu aneh nilainya selalu jelek. Em di kelas ternyata lebih asik ngobrol sama si dia. Dan ajaran guru, bisa nanya temen. Eh parahnya pekerjaan temen juga sama, pacaran, males-malesan.
Ada yang berpikir, bila cinta di balik seragam putih abu-abu alias anak sekolah hanya mengkhianati kepercayaan dan cinta ortu. Berapa kali harus ngakalin ortu agar bisa jalan ma pacar. Berapa kali berbohong beli buku untuk bisa traktir pacar, padahal buku sekolah udah banyak gretongan.
Hayo mau apa sih? Masa sekolah hanya sekali seumur hidup, bila salah melangkah menyesal. Kan pacaran pun bagian dari masa sekolah, kalau gak ngalamin nyesel? Wah, pikirian barat tuh, kita ini di beragama Islam. Tak boleh ada penyesalan dalam berbuat jelek, yah jelek.
Tapi kan di samping cita-cita, kita juga ternyata membutuhkan cinta? Bener, tapi bukan dari pacar. Kalau kamu gagal, usia masih belasan tahun, pacar mu paling tinggal mutusin kamu. Dan itu nyesek sekali rasanya. Cinta yang bener kita bisa dapat hanya dari
orangtua, saudara, sahabat, lingkungan sekitar.
Apa yang kita harapkan dari cara pacaran anak sekarang. Katanya sih kita selalu membutuhkan cinta sebagaimana kata pujangga, “Hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga…” Ini hanya sebuah ungkapan yang menyatakan bahwa sesungguhnya secara fitrah kita membutuhkan perhatian, kasih sayang dan cinta dari orang lain.
Yah betul, tapi atas alasan apa cinta pada lawan jenis yang gak jelas bisa jadi kebaikan? Yang ada deposit dosa maksiat kita makin bertambah, nambah, dan nambah. Dan ingat kita bakal menghadap Sang Pencipta bisa kapanpun dan dimanapun. Jadi pertanyaannya, maukah kita saat dijemput Malaikat Maut sedang BERPACARAN?
Orangtua sangat bahagian dan ihklas bila Malaikat Maut datang saat kita mengejar cita-cita bukan yang lain. Em jadi ngeri kan? Tapi itu lah hidup, kita semua diutus ke bumi untuk menuntut ilmu, bukan menuntut JODOH. Cukuplah Allah yang nanti mendatangkan JODOH yang baik menurutNya. (*)